Minggu, 21 April 2013

[Cerita] Golf Sie Mainannya Anak Saya…

Cerita has posted a new item, 'Golf Sie Mainannya Anak Saya…'


Di rumah saya ada beberapa stik golf (putter dan iron) yang semuanya merupakan
hibah dari teman-teman saya para pehobi golf. Mungkin maksud mereka menghibahkan
stik-stik itu supaya saya segera bergabung dengan komunitas pegolf. Tetapi
karena dasarnya saya tidak suka, ya sampai dengan saat ini stik-stik tersebut
hanya menjadi mainannya anak-anak saya. Seperti tadi padi pagi saya membuatkan
mereka putting green di halaman depan rumah sebagai imbalan untuk mereka yang
telah membantu saya merapikan rumput di halaman depan dan mencuci mobil. Saya
memang membiasakan mereka untuk menunaikan kewajibannya dulu sebelum menuntut
hak. Tetapi apabila kewajiban sudah ditunaikan dan hak tidak kunjung diterima,
maka wajib hukumnya untuk memperjuangkannya. Ikhlas dan sabar tetap ada
batasnya.

Dengan bermodalkan sisa pipa paralon dan rumput Jepang yang sudah tercukur rapi,
saya menjawab keresahan anak sulung saya yang kerap dipameri oleh salah seorang
teman sekelasnya yang orang tuanya hobi golf dan merasa paling kaya sendiri.
Saya berkata kepada si sulung bahwa sampai kapanpun selama Tuhan mengijinkan,
saya tidak akan pernah bermain golf lapangan karena beberapa alasan yang dia
mungkin belum mengerti. Saya hanya ingin dia tidak berkecil hati dipameri oleh
(oknum) temannya tadi. Paling tidak jika sewaktu-waktu dibutuhkan, dia bisa
mengajak temannya main golf bersama di rumah. Pameran dibalas dengan eksebisi
ceritanya. Filosofinya sesekali keris yang tersimpan di pinggang belakang harus
dikeluarkan jika musuh terus menyerang kita.

Ada beberapa alasan saya tidak mau bermain golf baik lapangan maupun driving.
Pertama, golf itu olahraga mahal. Beberapa teman saya pernah menyarankan untuk
menyewa saja peralatannya. Itupun tidak saya lakukan karena apparelnya masa mau
menyewa juga? Terus jika harus menggunakan jasa caddy dilanjutkan dengan
nongkrong di club housenya, siapa yang bisa menjamin tidak keluar uang banyak?
Iya kalau pas rejeki saya sedang baik, tetapi jika sedang berada di bawah tetapi
memaksakan diri kan malah menyiksa diri sendiri namanya.

Sebagai PNS, standar hobi tentunya harus disesuaikan dengan isi kantong yang
kadang lumayan jika sedang berdinas luar kota (variable income), tetapi pada
dasarnya standar hidup harus berdasarkan fix income, yaitu gaji dan tunjangan
kinerja. Keuntungan dari usaha sampingan yang saya miliki kebanyakan digunakan
untuk ekspansi atau membeli aset, bukan untuk membiayai kegiatan atau hobi yang
bersifat konsumtif. Jika alasannya golf untuk lobby dan sosialisasi tingkat
tinggi, saya juga kurang sepakat, karena saya tipe rumahan yang senangnya
bertemu orang sambil ngobrol-ngobrol akrab di rumah saja atau paling banter di
restoran. Terlebih jika untuk urusan bisnis, sahabat Tionghoa saya mengajarkan
untuk bertemu calon rekan bisnis di kantor atau pabrik untuk menunjukkan
bonafiditas dan keseriusan kita menjalin kerjasama.

Kedua, meskipun kedengarannya berlebihan, saya kurang sreg dengan olahraga yang
mengorbankan lahan pertanian atau tempat bersejarah. Saya ingat ketika lapangan
golf Rancamaya sedang dibangun dan terjadi kisruh kepemilikan lahan disana yang
ditangani langsung oleh Pak Sutiyoso yang ketika itu menjabat sebagai Danrem
Suryakencana Bogor. Betapa sedihnya melihat Bukit Badigul dan areal persawahan
di sekitarnya yang dulu bisa kami singgahi saat trekking bersama, yang dibangun
sebagai salah satu mahakaryanya Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja), raja
Pajajaran periode 1482-1521 M, sekarang paling tidak harus meminta ijin satpam
atau harus bermain golf dulu disana. Bersyukur dulu salah satu sahabatnya bapak
tinggal di Perumahan Rancamaya Estate, sehingga sesekali kami masih diijinkan
mengunjungi (bekas) Bukit Badigul tadi.

Olahraga favorit saya adalah jalan pagi, trekking dan berenang. Saya memilih
jenis olahraga tersebut karena murah meriah sekaligus memuaskan rasa cinta saya
kepada alam bebas. Pekerjaan saya yang menuntut untuk sering pergi keluar kota
menjadikan saya tidak mungkin memilih olahraga yang bersifat rutin dan
terjadwal. Jalan pagi, trekking dan berenang dapat saya lakukan di sela-sela
kegiatan dinas, apalagi bila mengunjungi tempat-tempat yang dingin dan indah
seperti Bukitinggi, Kepahiang dan Curup (Bengkulu), Dieng, Baturraden,
Kaliurang, Tomohon di Sulut atau Soe di NTT sana. Di tempat-tempat itulah
kegemaran saya tersalurkan, termasuk menikmati jajanan pasar seusai berolahraga.

Selera dan pilihan orang berbeda-beda, selama tidak merugikan orang lain maka
sah-sah saja seseorang memilih olahraga golf. Sebelumnya saya meminta maaf yang
sebesar-besarnya kepada mereka yang mencintai olahraga golf, termasuk kepada
teman-teman saya yang sejak dulu belum berhasil membaiat saya sebagai seorang
pegolf

You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar