Selasa, 16 April 2013

[Cerita] Sikap atas Berita Buruk

Cerita has posted a new item, 'Sikap atas Berita Buruk'



Sudah menjadi suatu yang jamak, jika berkembang anggapan bahwa yang disebut
berita adalah berita buruk. Anggapan ini juga hinggap di pikiran para redaktur
terutama media massa umum baik televisi maupun koran. Seolah mendapat semangat
baru, jika redaktur menerima berita buruk untuk diwartakan. Karena informasi ini
telah berlangsung tahunan dan disuguhkan per menit bahkan per detik dari
pelbagai sumber informasi sekitar, masyarakatpun kemudian percaya bahwa yang
dimaksud berita itu adalah berita buruk. Sosialisasi telah masuk ke alam bawah
sadar. Dan uniknya, berita yang bernada netral sekalipun dapat diplintir menjadi
berita buruk untuk menimbulkan sensasi. Demi pemuas dahaga informasi masyarakat.


Coba kita perhatikan: berapa banyak orang yang menonton atau membaca berita
tentang jatuhnya pesawat Lion Air dibandingkan dengan berita hasil penemuan
situs di Gunung Padang. Berita penangkapan pejabat oleh KPK dibandingkan dengan
berita penerimaan penghargaan Adipura di satu kabupaten. Berita pertikaian Adi
Bing Slamet dengan Eyang Subur seakan mendapat porsi lebih besar ketimbang
berita siswa SMP berprestasi yang memenangkan olimpiade matematika. Berita
tentang kecelakaan, pembunuhan, perceraian, huru hara, konflik elit partai,
pelaksanaan UN yang gagal lebih diminati ketimbang berita cerita sukses,
penemuan teknologi baru, prestasi dan lain-lain. Mungkin saya salah
mengklasifikasikan berita yang tadi saya sebutkan sebagai berita buruk, tapi
paling tidak bermuatan unsur minor. Saya tidak menyatakan bahwa berita buruk
atau berita baik sesuatu yang salah dan benar. Yang ingin saya ungkap adalah,
bagaimana cara kita bersikap atas kecendrungan pasar yang demikian.


Bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pembentukan opini, saya punya
pendapat begini: Tidak terlampau penting untuk mensiarkan berita baik diri
sendiri atau organisasi yang diwakili. Lebih penting adalah mencegah dan menutup
celah berkembangnya opini tentang berita buruk. Ringkasnya, berita baik tidak
penting, lebih penting menutup penyebaran berita buruk. Hal ini berlaku baik
dalam pasar ekonomi maupun pasar politik. Bahkan dalam dunia bisnis meyakini
bahwa berita baik hanya dapat menyebar ke dua orang, sedangkan berita buruk
lebih luas penyebarannya hingga delapan orang. Mengapa? Karena sudah
tersosialisasi dan masuk ke alam bawah sadar, posisi masyarakat (baca: pasar)
lebih apriori dengan berita baik. Mereka punya anggapan, tidak ada kecap nomor
dua, semua mengklaim diri sebagai kecap nomor satu. Sikap apriori ini berakibat,
masyarakat tidak terlampau peduli dengan berita baik, dan sebaliknya cepat
mengafirmasi berita buruk.


Apalagi di bidang politik. Sikap apriori lebih akut lagi. Masyarakat beranggapan
bahwa politik itu najis, kotor, dan wajib ditolak. Sikap seperti ini memang
semata bukan pengaruh media an sich. Pemerintahan Orde Baru di bawah
kepemimpinan Suharto selama 32 tahun telah menanamkan pandangan itu.
Mengupayakan terciptanya de-politisasi di masyarakat. Dan semakin diperparah
dengan prilaku dan kebijakan politisi, pejabat publik serta partai politik yang
makin menunjukan bahwa politik itu kotor. Jadi, jika ada upaya untuk melakukan
pembentukan opini (yang sering disebut kampanye) baik oleh perorangan maupun
partai politik dengan menyatakan bahwa partai dia maha bersih, maha profesional,
maha santun, atau paling memperhatikan rakyat, tetap saja disambut dengan sikap
apriori. Masyarakat tidak percaya, terutama masyarakat klas menengah perkotaan.


Saran saya: tutuplah celah penyebaran berita buruk. Hanya menutup celah berita
buruk ini, kerap kali saya jumpai dengan tindakan yang tidak tepat dan makin
memperparah situasi dan memperluas penyebaran opini. Bentuk yang paling banyak
adalah melakukan tindakan defensif dan pembelaan diri membabi buta. Cenderung
menyalahkan pihak lain, mencari kambing hitam, dan mengalihkan topik memuji diri
sendiri. Bagaimana mungkin memberi penjelasan dan klarifikasi kepada pihak lain
yang sudah dalam posisi apriori dengan dunia politik. Justru tindakan Diam,
lebih memungkinkan penyebaran opini berita buruk tidak akan semakin meluas.


Ada senjata yang paling ampuh untuk meredam berita buruk, yaitu: meminta maaf
dan mengakui kesalahan. Nampaknya hal ini sederhana, tetapi dalam text panduan
politik di beberapa negara, taktik ini dipergunakan (tak terkecuali di Amerika
dan negara-negara Eropa). Lepas dari tindakan meminta maaf ini bersifat tulus
atau pura-pura. Awalnya konsep meminta maaf dipergunakan dalam upaya
penyelesaian konflik di Afrika Selatan. Kekerasan tidak bisa dijawab dengan
kekerasan. Lambat laun, konsep ini dipergunakan juga di dunia politik, dalam
rangka menutup celah penyebaran berita buruk.


Peristiwa pengakuan 11 orang Kopasus atas penyerangan lapas Cebongan atau
mundurnya Andi Malaranggeng sebagai menteri, justru disambut positif oleh
masyarakat. Meskipun baru sebatas mengakui kesalahan dan belum mengajukan
permintaan maaf, respon masyarakat sudah cukup menutup penyebaran berita buruk
semakin meluas. Dan berita berita buruk yang muncul berikutnya, ditangkis bukan
oleh pelaku justru oleh masyarakat sendiri. Lihatlah bahwa cara meminta maaf dan
mengakui kesalahan dapat meluluhkan hati dan pikiran banyak orang. Padahal 11
orang Kopassus itu, belum dinyatakan bersalah oleh sidang pengadilan. Demikian
pula dengan Andi Malarangeng, belum ada putusan pengadilan kalau dia bersalah,
kenapa harus mundur sebagai Menteri.


Hujatan, makian, kritik, hinaan, kampanye negatif sesuatu yang lumrah di dunia
politik di belahan negara manapun. Tidak hanya di Indonesia. Hanya tinggal
kecerdasan para politisi dan partai politik mensikapi kenyataan itu. Tindakan
defensif, membalas dengan tindakan yang sama, menyalahkan, dan mencari kambing
hitam justru makin memperparah situasi. Diam adalah salah satu bentuk respon
yang positif. Dan menjadi lebih baik agar menuai simpati, dengan tindakan
mengakui kesalahan dan meminta maaf lebih bermartabat. Jika ingin mengikuti
sunah Rasulullah hingga pada maqam yang lebih tinggi, yakni mendoakan kebajikan
pada musuh-musuhnya. Amin.


You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar