Kamis, 16 Mei 2013

[Cerita] Puisi-puisi Amar Ar-Risalah II

Cerita has posted a new item, 'Puisi-puisi Amar Ar-Risalah II'




Harus Ada Hujan Deras Di Antara Kita

Kesepian menjadikanmu lebih dewasa;
Mampu memahami arti kekeliruan kalimat-kalimatku
yang sengaja kubuat agar kau tahu bahwa aku keliru

Aku ingin hidup seperti biasa; tidur siang
Kopi panas dan teman-teman yang manja
Himpitan-himpitan beban kerja dan waktu
Lalu aku yang berpusar di dalamnya

Setiap kata-kataku kubuat agar kau juga makin dewasa;
agar kau tahu maksudnya kelelahan, kesakitan, dan kesepian
bahwa kau tahu bahwa ada yang berkorban agar orang-orang yang dicintainya tetap
hidup
Agar hal-hal yang dicintainya bisa mencintai seperti senantiasa

Seperti lagu-lagu lain yang terasa suci
Kehidupan akan dinyanyikan sejak lahir hingga berhenti
Lalu seperti biasanya, setiap refrain adalah akhir, akan mencapai perhentian

Ketika kau menangis, lalu aku juga menangis-seperti biasa
Tapi sama-sama tak menginginkan diantara kita ada yang tahu bahwa kita menangis
terlanjur menyadari kefanaannya
atau seperti saat harus memaklumi bahwa kita sama-sama sumbang dan tak pantas
menyanyikan lagi kehidupan bersama-sama

Waktu itu aku belajar, aku harus menyederhanakan segala sesuatu
Bisa jadi kita adalah persamaan-persamaan hidup yang mesti diselesaikan
Kita adalah percobaan-percobaan yang harus disederhanakan
Aku harus menyederhanakan hujanku
Aku harus menyederhanakan pendengaranku
Aku harus menyederhanakan puisi-puisi agar kau dengan mudah bisa tertawa,
menangis, berenang, tertidur, atau bermanja serta sejujurnya menikmati cuaca

Ada hujan deras diantara kita
Yang tajam sekali jatuhnya
Melubangi batuan-batuan beku yang kita tata
Menjadi jembatan agar dapat bertemu

Harus ada hujan deras di antara kita
Agar kita bisa berteduh berdua, kau menatapku, aku memandangmu
Dan kita sama-sama basah karena hujan deras itu




Kalender sobek, ia habis jadi jam kerja
Jadwal-jadwal yang tak pernah terlaksana
Suatu hari ia cerita bahwa ada yang menambahkan terus tanda silang
Agar lewat satu kepastian setiap harinya
Dan pada suatu hari setelahnya ia menambahkan tanda silang terus menerus sebab
tak dapat tidur sepanjang malam,
bunyi ayam dan bulan-bulan yang setiap malam bergelimpangan tak lagi
dipedulikannya
ia membunuh semua dan menyobek kalendernya


































Waktu Berkunjung Ke Rumah Adri


Di ruang tamu:
Televisi besar bicara kematian dan kau bisu. Dengar-mendengar saja.
Di dinding; lukisan dua kapal kecil akan pulang
pada laut senja dengan dermaga kecil yang rusak dan sendirian
buku-buku lapuk di lemari lalu jarum jam patah:
kau tak ingin kehilangan puisi-puisimu
tak ingin dilupakan sajakmu

Di meja beranda: lima pualam telur paskah
Yesus lewat di jendela; sempat menyapa
Ia jadi berkat di kalender lusuh, lukisan dinding, dan langit-langit kebapaan
Agar kau ingat kembali masa kanak-kanak kecilmu yang bening dan putih tua

Di meja santap:
Masih juga kita disantap dan diminumi sampai dahaga lagi
Anak-anak yang tak kau biarkan haus-bergelas-gelas sajak
Yang lewat, dan yang hanya sempat tercatat di hati kita




You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar