Jumat, 22 Maret 2013

[Cerita] Pengalaman Memiliki Anak Prematur

Cerita has posted a new item, 'Pengalaman Memiliki Anak Prematur'


Di usia kehamilan tujuh bulan, tiba-tiba perut melilit, terasa sangat sakit
sekali. Dari buku-buku yang saya baca, rasanya melahirkan memang perutnya sakit.
Tetapi saya masih ragu apakah itu tanda-tanda kontraksi atau memang sakit perut.

Namun ketika saya cek, ternyata keluar flek. Akhirnya kami ke tempat praktek
dokter kandungan langganan kami. Ternyata beliau meminta saya bed rest di Rumah
Sakit.

Saya coba introspeksi diri mengapa tiba-tiba kontraksi di kehamilan tujuh bulan.
Padahal selama pemeriksaan selama ini, tidak ada keluhan apa-apa.

Setelah saya ingat-ingat, ternyata memang beberapa hari itu cukup melelahkan.
Seminggu sebelumnya, suami diminta pimpinannya menemani mahasiswa kunjungan ke
luar kota selama tiga hari. Sebenarnya kantor suami sudah tahu kalau saya hamil,
tetapi kebetulan pas semuanya ada tugas lain. Akhirnya kami jadi tidak tega juga
dan saya mengijinkan suami berangkat.

Untuk membunuh sepi selama ditinggal suami, saya menghabiskan waktu berjam-jam
di depan komputer. Untuk menyelesaikan satu pekerjaan yang tinggal sedikit. Ya,
rupanya duduk terlalu lama itulah yang membuat saya cepat lelah yang kemudian
kontraksi dan saya harus bed rest di Rumah Sakit untuk beberapa hari.

Rumah Sakit yang saya tuju kata teman-teman adalah Rumah Sakit bagus di Solo.
Terutama untuk melahirkan dan merawat bayi. Dokter kandungannya juga dikenal
dokter-dokter yang bagus-bagus di Solo. Begitu juga peralatan medisnya, kabarnya
juga lengkap. Ruangan di perwatan Ibu dan Anak juga bagus dan bersih.

Saya sendiri memilih Rumah Sakit itu karena dokter kandungan saya berpraktek di
situ. Selain itu ada diskon bagi kami. Karena Rumah Sakit itu satu yayasan
dengan tempat kerja suami.

Pelayanannya cukup mengesankan bagi saya. Saya yang waktu itu yang datang ke
Rumah Sakit naik sepeda motor, begitu sampai di depan ada perawat yang siap
membantu. Waktu itu perawat perempuan. Saya ditawari naik kereta dorong. Karena
memang sudah lemas, saya iyakan saya tawarannya.

Kemudian saya dibawa ke ruangan. Ruangannya besar. Ada sekat-sekat kelambu yang
di dalamnya ada tempat tidur pasien. Perawat ada di tengah-tengah.

Sambil menunggu diperiksa, sesekali saya dengar ada seorang wanita merintih.
Rupanya kesakitan karena akan melahirkan. Tetapi karena perawat bisa mendengar
rintihan si ibu, itu, perawat bisa segera datang ke pasien untuk segera membantu
meringankan sakit sambil menunggu siap melahirkan.

Ruangannya juga bersih. Seperti masih baru. Melihat ruangan Rumah Sakitnya
bagus, saya jadi khawatir jangan-jangan mahal. Makanya kemudian setelah dokter
datang, saya memilih di kelas 3 saja. Alhamdulillah, meski kami memilih di kelas
3, ternyata pelayanannya baik. Ya, mungkin karena kami tinggal di Solo. Jadi
Rumah Sakit dan dokter-nyapun tidak money oriented seperti cerita orang-orang di
Jakarta.

Selama dirawat, dokter dan bidannyapun sangat membatu. Yang saya ingat, ada
bidan cantik, masih muda. Saya tanya apakah dia sudah menikah. Ternyata belum
menikah. Saya tanya status menikah bukan karena apa. Saya hanya ingin tahu
apakah status menikah dan pernah melahirkan itu mempengaruhi cara melayani
bidan-bidan itu. Ini mengingat anak muda katanya mulai manja. Ternyata di Rumah
Sakit itu ada perbedaan cara melayani. Baik bidan/perawat yang sudah ibu-ibu
maupun mbak-mbak yang masih muda itu, mereka ramah-ramah. Ya, lagi-lagi dugaan
saya, mungkin karena itu di Solo yang orangnya dikenal kalem dan sopan.

Setelah seminggu saya dirawat di Rumah Sakit itu, saya diperbolehkan istirahat
di rumah. Dengan catatan, masih belum boleh banyak beraktifitas.

Karena dasarnya memang tidak mau diam, diam-diam saya ngeyel menyelesaikan
pekerjaan saya yang lain. Tetapi saya mengerjakannya sambil duduk di tempat
tidur.

Namun, perut mulai melilit lagi. Padahal selama di Rumah Sakit sudah tidak
sakit.

Rupanya memang kelahiran anak pertama sudah tidak bisa dihindari. Seminggu
setelah keluar dari Rumah Sakit, saya kembali lagi ke Rumah Sakit itu.
Celakanya, dokter kandungan saya (perempuan) sedang ada seminar di Semarang.
Sebenarnya dokter kandungan saya sudah memberi tahu akan pergi ke Semarang
beberapa hari. Tetapi namanya mau melahirkan, tidak ada namanya harus menunggu
dokter.

Akhirnya dokter kandungan saya meminta dokter pengganti. Dokter penggantinya
bukan perempuan, tetapi laki-laki. Ya, di Solo waktu itu dokter kandungan wanita
yang bagus, sabar dan melayani, hanya dokter kandungan yang selama ini saya
datangi. Ada dokter kandungan wanita lain, tapi kabarnya dan saya pernah datang
ke tempat praktiknya di salah satu Rumah Sakitl, tidak bagus dan galak. Jadi
ketika mendapat pengganti dokter laki-laki harus saya terima.

Dengan dibantu dokter pengganti itulah akhirnya pada saat itu, Selasa, 22 Maret
2005 pukul 5.50, tepat adzan maghrib, anak pertama lahir. Lahir ketika kandungan
berusia 7,5 bulan. Ya, anak pertama saya lahir prematur. Berat badan lahirnya
1,7 kg dan panjang 40 cm.

Sangat sedih dan merasa bersalah. Tetapi kemudian kami jadi teringat sebelumnya
ada bayi prematur dengan berat badan 0,6 kg di Solo yang sampai saat itu masih
hidup. Dan itulah yang menyemangati saya.

Karena prematur, anak saya langsung dirawat di ruang NICU dan berada di dalam
incubator. Ya, incubator, semacam kotak kaca kecil yang tertutup yang dilengkapi
peralatan medis dan pengatur suhu untuk menjaga agar bayi tetap hangat.
Sementara saya masih di bangsal kelas 3.

Bagaimana rasanya di Bangsal kelas 3 dan bagaimana dengan anak saya di ruang
NICU?

Bangsal yang saya tempati sama dengan bangsal ketika saya harus bed rest
seminggu sebelumnya. Ruangannya masih tetap bagus. Kami tinggal bersama pasien
lain. Tidak enaknya, ketika ada pengunjung. Kita tidak enak jika pengunjung kita
sampai meluber ke tempat pasien lain, sementara kita juga jengkel jika ada
pengunjung yang bandel tidak segera pulang. Tapi di rumah sakit itu cukup tegas
petugasnya. Meskipun pernah juga kecolongan ada pengunjung yang mengunjungi di
luar batas waktu kunjung.

Perawat/bidan atau dokter yang merawat saya juga baik dan sabar. Seperti yang
saya ceritakan di atas.

Sementara itu anak saya masih dirawat di NICU. Ya, anak prematur umumnya
pernafasannya belum sempurna, makanya itu kemudian dirawat di dalam incubator.

Bagaimana dengan asupan ASI anak selama di dalam incubator?

Sampai sehari pasca melahirkan, ASI saya tidak juga keluar. Sebenarnya jika saya
mempersiapkan sejak dini, ASI bisa saja keluar sebelum usia hamil sebelum 7
bulan. Celakanya, air susu saya tidak keluar juga. Dicoba dipompa juga keluarnya
beberapa tetes saja. Sementara anak masih di dalam incubator tidak bisa datang
ke bangsal kami sehingga tidak bisa mengisap langsung. Sedangkan saya, awal-awal
melahirkan masih takut bangun dan naik turun tangga untuk menjenguk anak saya
yang ruangan NICU-nya ada di lantai dua. Jadi anak saya terpaksa harus diberi
susu tambahan.

Perawat juga membantu memberi saran dan sekaligus perawatan supaya ASI saya
keluar. Istri-istri teman kerja suami juga banyak memberi masukan mengenai
merawat bayi prematur. Intinya, sebisa mungkin ibu dekat dengan anak. Meski
hanya sekedar menyentuh tangan. Masalah ASI, jika sudah keluar, sebaiknya
diperas untuk dimasukkan di botol dan diberikan ke bayi.

Alhamdulillah dengan dibantu perawat, pada hari kedua ASI bisa juga keluar juga.
Sejak itu, anak saya mulai mengonsumsi ASI melalui botol. Tetapi karena
jumlahnya masih sedikit, masih tetap dibantu dengan susu tambahan. Sejak itu
pula, saya usahakan menjenguk anak saya di lantai dua.

Sehari tiga kali saya kunjungi anak di NICU untuk sekedar menyentuh tangan dan
memberikan ASI ke perawat di NICU. Ingin melakukan terapi kangaroo, tetapi saya
sendiri tidak tega untuk memaksa perawat mengeluarkan anak dari incubator.

Di hari ketiga, saya diperbolehkan pulang ke rumah. Sementara anak masih di
rumah sakit. Dokter bilang, kemungkinan anak saya dirawat selama sebulan.

Sejak saat itu, saya ke Rumah Sakit tiap hari. Datang di pagi hari diantar
suami. Kemudian siang atau sore, tergantung waktu jika tidak ada jam mengajar,
suami menemani saya di rumah sakit hingga malam. Kami tidak tidur di Rumah
Sakit, takutnya malah semakin membuat saya lelah dan sakit. Jadi malam hari kami
pulang. Begitu seterusnya hingga pada hari ke-14 saya dipanggil perawat dan
diberitahu anak saya bisa pulang.

Sumber: Obi ketika berusia 14 hari (dokumen keluarga)

/p>

Sebelum pulang perawat memberi banyak saran bagaimana merawat bayi prematur di
rumah. Yang harus disiapkan adalah tetap menjaga agar suhu kamar tetap hangat,
kangaroo care, dan sebisa mungkin ASI saja hingga usia enam bulan.

Selain bertemu perawat, saya juga bertemu dengan dokter. Dokternya sudah senior.
Tetapi sayang, kami tidak bisa tanya banyak. Karena Dokter hanya menjawab satu
dua kata saja. Kami juga tidak mendapat saran banyak dari Dokter tersebut. Pikir
saya tidak apa-apalah, karena sudah banyak diberi saran oleh perawat.

Ketika anak saya diperbolehkan dirawah di rumah, beratnya masih 1,9 kg. Jadi
selama 14 hari hanya naik 2 ons saja. Sedih sebenarnya, karena berat badan anak
saya tidak naik. Tetapi jika dokter sudah bilang boleh pulang, kemungkinan sudah
tidak apa-apa.

Bersyukur juga keluarga, tetangga dan teman banyak yang membantu di rumah.
Terutama itri teman-teman suami di kantor. Mereka banyak memberi masukan dan
meminjami buku-buku perawatan bayi prematur. Seperti cara pemberian ASI
eksklusif dan pijat bayi.

Memang selama di Rumah Sakit, ASI saya tidak keluar banyak. Ya, antara lelah dan
selalu khawatir akan kondisi anak. Saya sendiri, jika dalam kondisi banyak
pikiran, penyakit malas makan kambuh lagi. Jadi lengkap sudah, asupan makan ke
saya sedikit dan kondisi saya panik sehingga ASI yang dihasilkan juga sedikit.

Namun, begitu anak boleh pulang, ada tekat kuat. Yang pertama harus saya benahi
adalah pola makan saya. Ya, yang dulunya berfikir makan itu tidak mengasyikkan
harus berubah menjadi makan itu mengasyikkan, karena punya anak prematur yang
butuh asupan ASI banyak.

Untuk masalah kangaroo care, tidak ada kesulitan. Apalagi kangaroo care itu
sangat mudah. Tinggal menggendong bayi dengan posisi bayi dihadapkan ke dada
ibu. Sebisa mungkin kepala berada di dekat jantung, sehingga bayi merasakan
detak jantung ibu. Seperti ketika dia di dalam kandungan.

Mungkin ini berbeda dengan cara menggendong bayi ala ibu-ibu jaman dahulu. Kami
yang akhirnya ditunggui ibu dan mertua, ada sedikit perbedaan cara merawat.
Termasuk di dalamnya bagaimana menggendong bayi. Jika ibu-ibu jaman dahulu,
menggendong bayi menggunakan selendang bayi dengan posisi bayi mendatar. Bahkan
ada yang terbiasa menggendong bayi dengan memasukkan kepala ke ketiak. Di
Kangoro Care ini tidak begitu, anak digendong posisi berdiri. Kepala di atas
kaki di bawah. Ini yang bertentangan dengan ibu dan mertua kami. Menurut beliau
berdua anak belum siap digendong tegak karena kepalanya belum siap. Padahal
ketika menggendong ala Kangoroo, kepala bayi juga harus tetap dipegangi.

Untuk menghindari perbedaan pendapat masalah menggendong, saya harus
pandai-pandai mencuri waktu supaya tidak ketahuan ibu saya dan mertua saya. Ya
maklum saja, punya cucu prematur membuat beliau juga tidak mau kalah ikut
mencurahkan perhatian. Ya, di bulan-bulan pertama anak saya ditunggui terus oleh
ibu dan mertua saya. Tugas saya makan yang banyak, menyusui dan menemani tidur
malam. Yah mau bagaimana lagi, namanya sayang ke cucu apalagi kami tinggal jauh.

Selain kangaroo care, ada pijat bayi. Awalnya saya masih ragu, takut pijatan
saya terlalu keras. Akhirnya saya datang ke fisioterapist. Seminggu dua kali
saya mengunjungi fisioterapist. Jika hujan, karena saya hanya punya sepeda
motor, mesti harus naik taksi. Naik taksi? Naik taksi sepertinya juga bukan
pilihan kami. Selain mahal, kasihan anak saya harus berdingin-dingin di luar
rumah. Akhirnya saya meminta fisioterapist-nya datang ke rumah. Alhamdulillah,
orangnya baik, dan saya kasih harga teman. Bahkan sekali-kali, beliau tidak
minta biaya transport. Ya, kami dapat harga kasihan.

Masalah pijat bayi juga jadi masalah bagi ibu dan mertua saya. Meski sebenarnya
sudah saya yakinkan dengan buku-buku perawatan bayi. Tetapi sepertinya beliau
berdua masih belum berani mencoba. Apalagi melihat anak saya telanjang ketika
dipijat, ibu saya dan mertua saya kompak mengingatkan fisioterapist agar
memijatnya jangan lama-lama. Supaya anak tidak kedinginan.

Apalagi masalah pemberian ASI penuh. Sebenarnya orangtua kami sudah tahu bahwa
ASI itulah yang terbaik. Tetapi masalahnya anak saya prematur. Dan di masyarakat
sudah berkembang pemikiran bahwa susu tambahan itu sangat bergizi. Ya,
kenyataannya anak yang dikasih susu kaleng memang gemuk-gemuk.

Tetapi alhamdulillah, masalah pemberian ASI saja ke anak tidak membuat anak saya
tidak sehat. Sebulan di rumah, ketika kami kontrol ke dokter, berat badan anak
saya langsung meningkat menjadi 2,9 kg. Ini semakin meyakinkan kami, bahwa anak
prematur itu bisa tumbuh dengan bagus jika selalu dekat dengan ibunya dan si ibu
juga dalam kondisi tidak sedang tertekan berat sehingga menghasilkan ASI yang
cukup. Anakpun mendapat asupan ASI yang cukup.

Tetapi periksa di dokter bawaan dari Rumah Sakit kurang memuaskan kami. Bukan
karena mendapat perlakuan buruk, tetapi tidak informatif. Ketika kami tanya,
beliau hanya memberi penjelasan satu dua kata saja. Sementara kami isinya
khawatir terus. Bagi saya, untuk apa datang ke dokter anak kalau tidak mendapat
banyak masukan, apalagi bayar mahal.

Kami sendiri mau pindah dokter tidak enak hati. Takutnya nanti ada saling
tersinggung antar dokter yang satu dengan yang lain. Tapi setelah tanya
sana-sini akhirnya saya putuskan menghilang dari dokter anak bawaan dari Rumah
Sakit dan saya pindah ke dokter anak di tempat praktik fisioterapist.

Bukan karena apa, kami hanya butuh dokter yang mau memberi banyak saran ke kami.
Tidak hanya menyentuh bayi trus bayi disuruh pulang tanpa memberi tahu apa-apa.
Atau hanya bilang, anak tidak apa-apa, atau bilang nanti sehat sendiri kok. Kami
butuh penjelasan mengapa anak saya kok bisa didiagnosa tidak apa-apa, atau kok
bisa nanti anak sehat sendiri. Jawaban itu penting bagi kami untuk menjelaskan
sebenarnya ada apa.

Dokter anak yang saya tuju ini kebetulan mengajar di salah satu universitas di
Solo. Jadi dugaan saya, beliaunya lebih informatif dibandingkan dokter anak
sebelumnya. Selain itu, dokter yang saya tuju itu punya pengalaman menangani
bayi prematur di Solo dengan berat lahir 600 g.

Ternyata pilihan saya tidak salah. Pertama kali datang ke dokter betul-betul
membuat kami yakin bahwa dokter itu adalah pilihan kami. Jadi, setelah anak
diperiksa, dokter memberi penjelasan banyak mengapa-mengapa dan kami harus
bagaimana. Menerangkannya juga menjelaskan juga detil. Sepertinya tidak mau tahu
saya ngerti apa nggak yang penting beliau menjelaskan. Sangat puas tentunya.
Biasanya setelah saya dikasih penjelasan, langsung saya cari tahu di internet.
Apa benar seperti itu. Ya, memang mencari internet bisa saja salah, tetapi
sebagai informasi awal artikel-artikel di internet cukup membantu.

Puas di kunjungan pertama, kami akhirnya memutuskan untuk selalu datang ke
dokter anak itu. Kadang ada sedih juga ketika akhirnya Dokter tersebut harus ke
luar negeri untuk ikut conference, atau ambil course. Biasanya akan diganti
dokter pengganti.

Pernah suatu saat ketika dokter bilang anak saya cuma flu atau batuk, saya ijin
untuk tidak menebus obat. Karena dari hasil membaca dan pernah dikasih tahu
teman saya yang waktu itu sedang menempuk pendidikan dokter kalau flu tidak usah
dikasih obat juga sembuh. Tapi memang lama dan butuh kesabaran orangtua. Saya
sendiri kalau terkena flu tidak pernah saya obati. Hanya minum air putih yang
banyak, atau memanaskan diri. Jadi saya konsultasikan gimana kalau obatnya tidak
saya kasihkan, tetapi anak saya usahakan minum ASInya banyak dan berjemur di
pagi hari. Respon dokter cukup santai, boleh, asal di ibu sabar lho ya. Jadi
beliau tidak memaksakan atau ngotot supaya saya menebus obat, meski sebenarnya
beliau memberi tahu bahwa dengan tidak diberi obat, kemungkinan saya akan sangat
repot karena anak rewel terus.

Pikir saya, tidak apa anak rewel bahkan jika sampai saya lembur malam karena
anak rewel juga tidak apa-apa. Yang terpenting kedepannya anak lebih kuat.

Alhamdulillah, sampai enam bulan, berat badan anak saya selalui naik minimal 1
kg/bulan. Pijat bayi masih berlanjut meski sudah jarang mendatangi
fisioterapist. Saya mencoba belajar memijat bayi saya sendiri di rumah. Sehingga
tidak keluar banyak uang.

Sumber: Obi ketika 6 bulan (Foto: Septin)

/p>


Sumber: Obi tingginya hampir menyamai saya. Saya yang salah atau Obi yang memang
tinggi? (Foto: Eko)


Kini, 22 Maret 2013, anak saya berusia 8 tahun. Tingginya sudah hampir 140 cm.
Alhamdulillah, tumbuh sehat. Tumbuh normal meski kemampuan motorik kasarnya
tidak begitu bagus.

Menurut saya, ini semua tidak lepas dari pengalaman baik sejak anak saya lahir.
Lahir di Rumah Sakit yang melayani. Ditangani oleh dokter yang melayani. Juga
perawat dan bidan yang ramah dan melayani. Keluar dari rumah sakit, mendapat
dokter yang sangat helpful, komunikatif dan informatif. Juga fisioterapist yang
murah hati dan sabar.

You may view the latest post at
http://cerita.biz/pengalaman-memiliki-anak-prematur/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar