Jumat, 22 Maret 2013

[Lowongan PNS - http://pns.web.id] Rasa Takut Jangan Dipelihara

Lowongan PNS has posted a new item, 'Rasa Takut Jangan Dipelihara'

Rasa takut adalah musuh bebuyutan manusia. Kita sendiri pun pasti mengalami
betapa kita seringkali melakukan berbagai upaya untuk menghindari rasa takut.
Bila seorang anak kecil takut untuk tidur sendiri, timbul belas kasihan kita dan
kemudian menemaninya tidur. Banyak hubungan yang tidak berjalan baik karena
takut bicara, takut melukai perasaan, atau takut kehilangan. Orang yang
menderita psikosomatik, sebenarnya menderita ketakutan yang disimpan dalam-dalam
dan diekspresikan dalam rasa sakit fisik berkepanjangan.Di perusahaan, kita pun
ingin menghindarkan karyawan dari rasa cemas, misalnya tidak dengan transparan
memberitakan keadaan keuangan perusahaan, agar para karyawan tidak merasa takut
atau bahkan hengkang ke perusahaan yang bisa memberi rasa aman. Padahal,
melarikan diri dari rasa takut tidak menyelesaikan masalahnya, bukan? Tanpa
disadari, kita juga menjauh dari proses belajar yang sebetulnya dibutuhkan untuk
membuat diri kita lebih kuat.Rasa takut yang dipelihara sudah pasti tidak akan
membawa kebaikan. Bila dalam sebuah organisasi, rasa takut tidak dikelola dengan
baik, kita akan menemui suasana yang mencekam, di mana banyak orang takut
bicara, takut salah, penuh rasa curiga, tidak mau mengambil risiko, dan menjadi
tegang.Robert J. Herbold dalam bukunya Whats Holding You Back? mengemukakan
bahwa ada dua hal penting yang terjadi, bila suatu lembaga dikelola oleh seorang
pimpinan yang penakut. Pertama-tama, organisasi sudah pasti semakin kompleks,
namun pimpinan tidak bisa membatasi kebutuhan sumber daya manusianya dan juga
tidak bisa menghadapi pihak-pihak yang ingin "memikirkan dirinya sendiri".
Alhasil divisi atau organsiasi di bawah pimpinan si penakut ini menjadi
birokratis dan kompleks, lamban dan kaku.Kedua, dalam menanggapi ide-ide dan
gagasan baru seorang manajer yang penakut akan berorientasi ke konsensus,
sehingga keputusan tidak bisa diambil dengan cepat padahal situasinya kritis.
Berarti, pemimpin pun perlu dibekali dengan keberanian yang kongkrit.Bila kita
ingin merekrut para manager ataupun pejabat, ada baiknya kita juga mengecek,
apakah si calon ini pemberani atau tidak. Pertanyaannya, adakah cara menggunakan
rasa takut ini untuk menjadi pemimpin efektif? Bila rasa takut tidak boleh
ditekan dan ditahan, apa yang harus kita kerjakan?Rasa takut sebagai vitaminKita
bisa belajar memanfaatkan rasa takut dari Edwards Deming. Pada tahun 60-70 an,
ketika melakukan gerakan revolusioner pada kontrol kualitas industri Jepang,
beliau justru membahas rasa takut sebagai unsur penting dalam kontrol kualitas.
Dalam pembahasannya mengenai drive out fear, Deming mengatakan bahwa lawan dari
situasi yang menakutkan adalah atmosfir yang inovatif, kreatif, spontanitas,
energi yang lebih kuat dan otomatis, serta produktivitas.Bila dalam suatu
situasi kerja, orang tidak takut untuk mencoba dan mencari jalan lain agar lebih
baik, maka suasana kerja akan berbau inovasi dan pengembangan. Dalam situasi
begini, komplen pelanggan dijadikan sarana perbaikan, teguran atasan akan
dianggap sebagai cemeti untuk lebih berprestasi, sehingga semua hal yang
sebenarnya bagi lingkungan lain dianggap momok yang membuat hati kecut, justru
dianggap sebagai vitamin yang menyehatkan.Salah satu jalan keluar dari rasa
takut adalah menyadari apa yang menjadi sumber ketakutan kita, dan kemudian
berusaha bersikap lebih rasional. Kita perlu berani meninjau kembali rasa takut
kita, siapa tahu pengaruh negatif ini bisa kita switch menjadi rasa tidak nyaman
yang positif. Daripada menekan rasa takut melakukan presentasi, mari kita
menghitung risiko dan semua kemungkinan bila presentasi itu tidak berhasil. Saat
kita menghitung risiko, seringkali kita menemukan bahwa apa yang kita takutkan
tidak benar-benar nyata, dan kita pun menjadi lebih siap dan kuat untuk
menghadapi situasi gagal.Bila kita perlu menyampaikan hal yang tidak enak, tidak
simpatik, tidak membuat orang lain happy, pertanyakan apakah kita sudah didukung
oleh data yang cukup? Bila menghadapi masalah yang pelik, apakah kita sudah
memikirkan lebih dari satu jawaban? Selain bersikap berani, kitapun perlu
menyertai keberanian kita dengan keberanian melakukan hal-hal yang operasional.
Tidak sekadar "omdo".Fearless leadershipOrang yang begitu sibuk berkutat dengan
rasa takut sudah pasti tidak bisa berpikir jernih karena terbenam dalam
kompleksitas pemikirannya. Dalam bukunya Fearless Leadership, Loretta Malandro,
PhD, menegaskan bahwa bila kita ingin menjadi besar, kita perlu bernyali besar.
Bila kita "main aman" terus, maka organisasi yang kita pimpin akan tetap kecil.
Fearless Leadership bukanlah menghilangkan rasa takut, tetapi justru
menghadapinya dan berusaha mencari solusi dengan memperhitungkan semua risiko
yang ditakutkan akan terjadi itu.Keberadaan di dalam keadaan discomfort inilah
yang menyebabkan orang menjadi berpikir lebih keras dan berusaha mencari lebih
banyak alternatif jawaban masalahnya, dan keluar dari solusi yang itu-itu juga.
Menciptakan sense of urgency adalah salah satu cara untuk membangkitkan
ketakutan yang positif. Artinya, anggota kelompok menyimpan rasa takut terhadap
keterlambatan, sangsi sosial yang akan dihadapi bila tidak mencapai target dalam
waktu yang sudah ditentukan, bahkan siap menerima konsekuensinya.Orang harus
yakin bahwa ia tidak memelihara "victim mentality"-nya dan harus berpikir inside
out. Peter Drucker mengatakan, People who dont take risks generally make about
two big mistakes a year. People who do take risks generally make about two big
mistakes a year. Jadi, mengapa kita harus hidup dalam ketakutan? Bila sebagai
pemimpin kita sungguh-sungguh ingin maju dan berkembang, kita tidak punya
pilihan kecuali keluar dari rasa takut, mulai mengepakkan sayap dan memberanikan
diri untuk think bigger, mengambil risiko dan berkomunikasi sejernih-jernihnya
dengan anggota tim kita.Eileen R

You may view the latest post at
http://pns.web.id/rasa-takut-jangan-dipelihara-2/


Best regards,
Lowongan PNS - http://pns.web.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar