Selasa, 23 April 2013

[Cerita] Kedua Kalinya, Beragama Santai Tapi Serius

Cerita has posted a new item, 'Kedua Kalinya, Beragama Santai Tapi Serius'



Kedua Kalinya, Beragama Santai Tapi Serius
Oleh : Salamun Ali Mafaz
Ketika dulu masih kecil, saya tidak mengerti bagaimana cara beragama itu. Baru
kemudian keluarga membimbing saya dengan beraneka macam kewajiban-kewajiban yang
harus dijalani, mulai dari shalat, berpuasa, dan menunaikan zakat. Meskipun saat
itu yang saya tahu hanya bagaimana cara shalat, berpuasa, dan zakat yang hanya
sekedar mengikuti keramaian teman-teman mengantar beras ke pelosok-pelosok
kampung. Kemudian saya diajari mengaji dan membaca doa-doa, hingga belajar
ilmu-ilmu agama yang lain. Bayangan saya waktu itu, orang tua melihat anaknya
nurut saja, rajin shalat dan mengaji sudah senang. Semakin bertambahnya usia,
saya dititipkan belajar agama di pesantren, ternyata yang saya alami jauh
berbeda dengan apa yang pernah saya alami di keluarga. Di pesantren belajar
agama mulai memakai aturan, tidak ikut shalat jamaah, bisa kena hukuman, apalagi
sampai tidak melaksanakannya. Meskipun shalat sendiri hubungannya antara manusia
dengan Tuhan, tapi saat itu saya terasa diawasi malaikat-malaikat yang menjelma
menjadi pengurus dan Ustad di pesantren.
Pada waktu itu saya sempat terpikirkan, kalau konsep ihsan yang berbunyi an
tabudullah ka annaka taraahu, failam yakun taraahu ka annahu taraaka.
Beribadahlah seakan-akan kamu melihat Tuhan, jika tidak demikian seakan-akan
Tuhan yang melihatmu. Terasa tidak bermakna sama sekali, pasalnya teman-teman
termasuk saya sendiri waktu itu, hanya menurut dan takut sama yang namanya
pengurus dan Ustad. Bahkan ibadah waktu itu, seakan-akan diklaim milik
gerombolan pengurus dan Ustad yang kapan saja bisa memvonis dan menghakimi bagi
yang tidak menjalankannya. Jika tidak dipaksa pengurus atau tidak ketahuan
pengurus, maka terkadang ada dari beberapa teman saya yang tidak ikut mengaji
dan mengerjakan rentetan menu agama itu. Tuhan tidak bisa dikibuli dengan
kehadiran pengurus dan Ustad yang kapan saja meski dituruti, padahal sesekali
saya pernah memergoki pengurus yang menyuruh saya shalat jamaah, dia sendiri
kembali ke kamarnya dan menikmati sajian musik.
Karena pandangan saya yang demikian itu, saya sempat disidang oleh beberapa
majelis Kiai bahkan diancam akan dikeluarkan dari pesantren. Mereka menilai
celotehan saya yang demikian merupakan bentuk provokasi kepada santri agar tidak
mentaati pengurus, ustad, bahkan menentang peraturan pesantren. Sebetulnya
bukanlah demikian, saya justru waktu itu mengajak semua santri agar beribadah
bukan karena ada manusia yang mengawasi dan menakut-nakuti dengan hukuman, kalau
demikian maka kehadiran Tuhan seakan dinistakan dan mampu dikalahkan dengan
kehadiran manusia. Peraturan pesantren memang begitu penting, tapi menyadarkan
mereka cara beragama secara ihsan jauh lebih penting. Sama halnya saya
mengamati, kalau manusia menjalankan agama secara terpaksa, maka yang ada
hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Agama tidak mendatangkan efek kebaikan jika
yang memeluk tidak secara nurani menerimanya, justru agama akan menjadi racun
bagi pemeluknya jika kedatanggannya dipaksakan oleh pihak lain. Maka menjadi
tanda tanya besar bagi mereka yang suka memaksakan agama, jangan-jangan mereka
sudah terkena racun agama itu sehingga membuatnya menjadi kolap cara
beragamanya.
Tidak kalah hebatnya, ketika selesai dari pesantren, saya menghirup udara di
alam bebas. Betapa terkejutnya dihadapkan dengan relita kehidupan yang kompleks,
di Jakarta seakan agama mampu diredupkan dengan kesibukan bekerja, tempat-tempat
perbelanjaan yang mentereng, dunia hiburan yang menggoyang-goyang, serta
penderitaan segelintir manusia yang mengais-ngais recehan untuk bertahan hidup.
Dari sini saya melihat, agama tidak bisa berkutik apa-apa ketika dihadapkan
dengan realita sosial yang sembrawut. Di mana kini agama berada, teriakan
pengemis, anak jalanan itu seakan menjadi cambuk bagi mereka yang beragama,
bahwa ceramah-ceramah, ayat-ayat, sabda-sabda tidak ada artinya dibandingkan
dengan segelintir recehan dan sesuap nasi. Sebaliknya bagi kalangan kelas atas,
dunia glamor Jakarta mampu meninabobokan mereka dari agama dengan
hidangan-hidangan kota besar yang mengguncang iman. Agama sekali lagi menjadi
barang dagangan yang kapan saja bisa didiskon dengan kesenangan dunia.
Memang ada yang seakan berpetualang menjadi pahlawan agama, dengan teriakan
takbir di tengah kemacetan Jakarta, memasang beberapa spanduk di pinggir jalan
dengan beraneka macam kegiatannya. Bahkan memplokamirkan diri sebagai orang yang
beragama secara kaffah. Beruntung Tuhan Maha Kasih Sayang, seandainya Tuhan
murka, maka segala macam spanduk, baliho, dan kebisingan mengatasnamakan agama
itu akan dihempas topan, supaya mereka tersadar tidak ada guna mempertentengkan
diri sebagai orang yang afdhol beragama. Tuhan sekali-kali tidak akan menerima
cara beragama orang yang sombong dengan celotehan inilah saya orang yang mulia
keturunan Nabi dalam arti kata yang lainnya derajatnya di bawah dan tidak mulia.
Maka jika kita melihat orang yang beragama memploklamirkan diri sebagai
keturunan Nabi, atau dari maqam yang mulia sesungguhnya cara beragama orang yang
demikian sangat kaku bahkan sebagai pendusta agama. Tanpa memploklamirkan diri
seperti itu sekalipun, agama tidak akan runtuh dan Tuhan tidak berkurang
kekuasaann-Nya. Sebaliknya memploklamirkan diri seperti itupun, sama saja agama
akin tetap tegak dan Tuhan tetap Maha Kuasa.
Sejatinya, esensi orang yang beragama adalah memuliakan semua ciptaan Tuhan,
apalagi manusia. Ajaran agama menyebutkan Walaqad karamna bani adama fil barri
wal bahri, sungguh Tuhan telah memuliakan keturunan Adam di daratan maupun di
lautan. Dengan kata lain, Tuhan yang menciptakan saja sudah memuliakan,
beraninya manusia yang diciptakan justru menistakan manusia yang lain. Ini
sungguh kedzaliman yang berlipat-lipat ganda. Dalam sebuah hadis bahkan
dijelaskan, seseorang bisa masuk surga karena menolong binatang yang kehausan,
dan sebaliknya seseorang bisa masuk neraka karena menyiksa binatang. Di dalam
agama binatang saja dimuliakan sebagai mahluk Tuhan dengan penuh kasih sayang,
maka apalagi manusia. Maka saya prihatin, justru banyak manusia yang beragama
berani menyakiti bahkan membunuh sesama manusia itu sendiri, Tuhan sangat murka
terhadap model manusia yang beragama seperti ini.

Maka hemat saya, beragama itu selalu dinamis. Tidak kaku dengan ajaran-ajaran
yang sudah kita terima semenjak dari kecil. Pencarian hidup kita merupakan
kontribusi terbesar dalam mendinamiskan agama itu sendiri. Maka biarlah agama
itu mengalir seperti air yang jernih, menembus hati nurani dan pikiran yang
bersih, mendayu-dayu bersama kedamaian, menghempas segala kekerasan dan
kedzaliman. Dengan demikian agama akan menjadi penentram bagi manusia, lembut
dan penuh dengan kedamaian. Hemat saya ayat yang mengatakan udkhulu fi silmi
kafah itu belum tuntas kekafahannya bagi orang yang beragama, karena predikat
kekafahan itu akan diperoleh ketika orang yang beragama itu sudah benar-benar
beribadah kepada Tuhan, bermanfaat bagi sesama manusia dan tidak membuat
kerusakan. Kebanyakan orang masuk agama secara kafah itu dipersepsikan hanya
menjalankan ritual agama semata tanpa melihat sisi-sisi yang lain. Maka kita
sebagai orang yang beragama, mari beragama secara santai tapi serius dengan
tetap menebar kedamaian, bermanfaat bagi orang lain, dengan demikian
mudah-mudahan predikat kekafahan kita beragama akan segera kita peroleh.



You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar