Selasa, 16 April 2013

[Cerita] Media Pemberitaan Haruslah Mengedukasi dan Berimbang

Cerita has posted a new item, 'Media Pemberitaan Haruslah Mengedukasi dan
Berimbang'


Twitter. Akhir-akhir ini media sosial tersebut sedang naik daun karena presiden
Indonesia akhirnya membuat akun di jejaring sosial itu. Sebagian besar warga
memberikan tanggapan yang negatif dan sebagian lainnya memberikan tanggapan
positif. Banyaknya cibiran pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut
agaknya kurang bijak. Banyak yang berpendapat pembuatan akun Twitter tersebut
adalah pencitraan SBY sebelum lengser dari jabatannya. Mungkin pertanyaan dari
saya, memangnya kenapa SBY punya Twitter? Kenapa harus ditanggapi dengan
berlebihan? dan lain sebagainya.

Media, agaknya, berlebihan menanggapi fenomena tersebut. Bagi saya, pembuatan
akun Twitter SBY bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan. Karena, publik
juga menanti banyaknya pemberitaan lain yang lebih penting. Menyinggung
pemberitaan yang penting dan tidak penting, saya sedikit tergelitik dengan
fenomena Eyang Subur. Perseteruan artis Adi Bing Slamet dengan mantan guru
spiritualnya, Eyang Subur, sudah mengambil porsi pemberitaan dalam beberapa
bulan ini. Entah berawal dari mana dan apa motivasi munculnya pemberitaan ini,
namun saya merasa masalah itu bukanlah masalah urgensi publik. Meski, bisa saja
munculnya masalah tersebut dikarenakan wacana rancangan undang-undang (RUU)
Santet yang belum jelas. Ilmu hitam semacam santet agaknya sulit dibuktikan bila
diperkarakan secara hukum. Bagaimana standarisasi tindak kriminal untuk santet?
Cara pembuktiannya? Atau bagaimana memperkarakannya? Bisa jadi kalau RUU itu
dapat dimanipulasi untuk menuduh orang dengan tindak kriminal santet.
Pembentukan RUU itu harus matang bila ingin dilegalkan.

Kedua pemberitaan tersebut, bagi saya, adalah suatu pemberitaan yang lebay.
Karena, keduanya bukan suatu pemberitaan yang menarik. Setiap orang berhak untuk
mempunyai akun Twitter, baik untuk kepentingan yang baik atau buruk. Meskipun,
memang cukup terlambat bagi SBY untuk membuat akun tersebutkarena terlalu banyak
citra buruk yang dilakukan oleh oknum-oknum sekitarnya sehingga orang menilai
tindakan tersebut kurang tepat. Apalagi, kemunculan pemberitaan tersebut
seakan-akan menenggelamkan pemberitaan lainnya, seperti lumpur lapindo atau
kasus-kasus lainnya yang kini tenggelam. Lalu, untuk kasus Adi Bing Slamet
dengan Eyang Subur hanya menunjukkan ketidakdewasaan kedua belah pihak.
Pasalnya, jika apa yang dituduhkan benar atau salah hanya perlu dibuktikan.
Selain itu, saya menjadi kasihan pada warga di sekitar rumah Eyang Subur. Pasti,
dengan menggelegarnya kasus tersebut membuat perasaan was-was ataupun tidak
tenang. Jujur, saya jenuh dengan pemberitaan perseteruan antara mantan murid
dengan mantan guru tersebut.

Media seharusnya bisa lebih bijak dan tidak terkesan membuat sebuah opini publik
murahan. Akan lebih mulia bila media mengantarkan kasus-kasus yang tidak
terungkapatau tenggelamuntuk kembali terungkap dan terselesaikan. Cobalah sorot
kembali keberlangsungan kasus-kasus yang mulai tenggelam, seperti lumpur
lapindo. Cobalah menjadi panjang tangan dan lidah bagi korban. Media harusnya
menjadi mata rakyat untuk melihat kenyataan, menjadi pelipur rakyat bila
keadaans sedang tidak menyenangkan, atau penjadi jendela ilmu bagi mereka yang
membutuhkan.

Saya merasa, fungsi edukasi berimbang dari media sudah mulai luntur. Banyak
pemberitaan yang saya rasa menyudutkan oknum-oknum tertentu atau menutup mata
rakyat sehingga rakyat tidak mengetahui kebenaran serta kenyataan yang terjadi.
Sisi komersialitas media lebih dikedepankan ketimbang teredukasinya masyarakat
akan kondisi atau peristiwa yang saat ini terjadi. Khususnya infotaintment yang
saya rasa sudah terlalu banyak dan cenderung berisikan pemberitaan yang monoton.

Dengan dimanjakannya rakyat Indonesia dengan pemberitaan negatif maka pola pikir
bangsa ini akan terarah pada pola pikir negatif. Semakin negatif pemikiran suatu
bangsa maka semakin terpuruk dan terjajahlah mental bangsa tersebut. Apakah
Indonesia akan kembali kepada lemah penjajahan? Kalau saya sendiri tidak ingin
Indonesia kembali ke masa suram. Untuk itu, seharusnya pemberitaan harus
berimbang dan tidak melulu menunjukkan kenegatifan dari suatu peristiwa. Harus
berimbang ketika melihat suatu peristiwa, harus cerdas dalam menyampaikannya.

Saya berharap media pemberitaan bisa lebih bijak dalam mengemas beritanya.
Jangan terlalu berlebihan menanggapi suatu berita dan jangan mencari-cari
kesalahan bila tidak ada berita. Akan lebih baik jika masyarakat diedukasi
dengan sesuatu yang positif seperti yang dilakukan oleh Andy F Noya pada acara
Kick Andy. Beritakan perjuangan bangsa kita di kancah dunia. Beritakan kepada
masyarakat bahwa Indonesia memiliki kekayaan yang bisa dimanfaatkan. Beritakan
kepada masyarakat bahwa kebudayaan Indonesia adalah harta kekayaan yang selalu
membuat negara lain, khususnya negara berbudaya ekonomi, iri. Dan beritakan pada
masyarakat Indonesia bahwa negara Indonesia mulai melaju di antara negara
berkembang lainnya.

Pada akhirnya, bila kondisi media pemberitaan masih lupa dengan sisi
edukatifnya, maka tidak ada bedanya berita dengan cerita. Fakta akan tersamarkan
dalam fantasi semu. Berita hanya untuk dinikmati bukan ditelaah dan menjadi satu
jendela penambahan informasi. Karena, informasi yang tidak penting dengan
kuantitas besar hanya akan membuntukan mental bangsa, sedangkan pemberitaan
dengan kualitas baik maka akan mencerdaskan bangsa Indonesia. Sadarlah bahwa
bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan mampu menaklukan dunia.

You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar