Rabu, 29 Mei 2013

[Cerita] Tuhan dan Tata Nilai dalam Kurikulum 2013

Cerita has posted a new item, 'Tuhan dan Tata Nilai dalam Kurikulum 2013'




oleh
Jaja Jamaludin, S.Pd. M.Si.
Praktisi Pendidikan pada BOSOWA International Boarding School


Membaca konsep kurikulum 2013 mengingatkan penulis pada 14 tahun yang lalu mana
kala mewacanakan pendidikan Sains berbasis Tatanilai. Jika ditelaah dari
struktur dan design filosofis kurikulum 2013 terutama pada ultimate goalnya
yaitu pada Kompetensi Inti, kurikulum ini akan memberikan harapan besar.
Misalnya, disebutkan Kompetensi inti (ke -1) misalnya, Menghayati dan
mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. selanjutnya, pada kompetensi inti ke-2
dituliskan Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam
serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Sementara pada domain ke-3 dari Kompetensi Inti diantanya : Menghayati dan
mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan
sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Pada bagian ke-4 dari kompetensi inti disebutkan Mengolah, menalar, menyaji, dan
mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari
yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan
kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

Kurukulum Idealis atau Utopis?

Sampai disini kita patut kagum dengan kurikulum 2013 ini. Boleh jadi, Kurikulum
ini kita sebut sebagai konsep kurikulum yang memiliki keinginan yang ideal.
Mungkin juga kurikulum ini mengesankan konsep kurikulum yang memiliki pandangan
sekaligus kesadaran atas pentingnya refleksi atas Nilai-nilai pembentuk karakter
dan nilai-nilai religiusitas. Tapi juga boleh jadi kurikulum ini akan terkesan
utopis dan tentu saja tidak realistic. Kemungkin utopis dan tidak realistic ini
manakala kurikulum ini jika hanya berhenti pada upaya mengkontruksi bangunan
kurikulum an sich dan tidak secara tuntas serta utuh mengikhtiarkan prakondisi
dan daya dukung secara komprehensip dalam tataran implementasinya. Diperlukan
kontinuitas konsistensi serta focus kebijakan pada tataran preparation untuk
implementasi secara massif.

Sejumlah suprastruktur pendidikan dan suprasturktur pembelajaran di dalam kelas
sebagai medium tumbuhkembangnya kurikulum 2013 ini tentu mutlak dipersiapkan.
Sebagai contoh, bagaimana seluruh praktisi pendidikan memiliki
pengetahuanterutama para guru di sekolah-sekolahmemahami atas dasar paradigm apa
kurikulum ini di bangun. Selain itu para parktisi pendidikan terutama guru harus
sangat cermat dan akurat dalam menjabarkan sejumlah kompetensi dasar dari setiap
konten pembelajaran dengan berpegang pada paradigma kurikulum ini. Jika ini saja
tidak cukup untuk dispersiapkan secara dini dan massif maka boleh jadi kurikulum
ini pada tataran implementasinya akan mengalami resistensi alamiah yang
bersumber dari ketidakpahaman atas konsep dasar serta paradigma yang dianut oleh
kurikulum 2013 ini. Pada gilirannya kurikulum ini akan menemukan titik nadir
kenistaanya yakni kurikulum yang quovadis.

Perspektif Filosofis

Seandainaya para guru dan para praktisi pendidikan sangat kuat memahami
bagaimana secara filosofis keilmuan itu di bangun, penulis mengatakan bahwa
falsafah dan paradigm kurikulum 2013 ini tidak akan sulit diimplemetasikan.
Sebaliknya jika pemahaman guru sebagai implementator kurkulum dan bahkan
sejatinya adalah pemgembang kerikulum tidak memadai tentang wawasan falsafah
keilmuan bagaimana sebuah ilmu dan pengetahun itu dibangun tentu menjadi sangat
pesimisti Sebab, jika menggunakan perspektif domain filosofis yakni mencerminkan
kompetensi Inti ke-1, ke-2, ke-3 dan ke-4 kedalam domain filosofi keilmuan yakni
ontologis, epistemologis dan aksiologis, maka akan lebih mudah mencermati dan
mengimplementasikan kurikulum ini. Meskipun tidak cukup simple atau sederhana.
Dengan begitu, akan cukup mudah pula para guru mengimplementasikan dan
mengembangkan kurikulum ini baik di dalam kelas maupun di lingkungannya sebagai
sumber belajar dan sumber ilmu.



Koherensitas antardomain Kompetensi Inti

Dalam perspective para guru selama inidan merupakan pandangan serta pengalaman
yang sangat mapan di kalangan semua guru di negeri inikompetensi inti pada
domain ke-3 dan ke-4 bukan saja bukan hal baru tetapi juga telah sangat akrab
dipahami kualitas-kualitas konsepnya. Selain telah menjadi orientasi praksis
dari proses pembelajaran kompetensi inti ke-3 dan ke-4 juga merupakan kompetensi
dasar yang kualitas-kualitas konsep pencapaiannya telah banyak digunakan di
kurikulum sebelumnya. Justru yang menjadi pertanyaan besar adalah problem
koherensitas antara kompetensi inti ke-3 dan ke-3 terhadap kompetensi inti ke-1
dan ke-2. Disinilah titik krusial sekaligus sangat strategis dari jatidiri
kurikulum 2013 dibanding dengan kurikulum sebelumnya.



Kompetensi inti ke-1 lebih bermakna sebagai domain spiritual-transenden : sebuah
kesadaran atas eksistensi serta kemahabesaran Tuhan sebagai pencipta alam
semesta yang menjadi objek pembembelajaran. Sementara pada domain kompetensi
inti ke-2 lebih bermakna aktualisasi Tatanilai dengan sejumlah karakter mulya
sebagai pembentuk karakter pribadi keberadaban manusia. Lalu bagiamana
koherensitas antara kompetensi ke-3 dan ke 4 terhadap kompetensi ke-2 dan ke-1?



Penulis berpendapat, jika dilihat dalam perspective filsafat ilmu koherensitas
antara domain kompetensi di atas justru menjadi keniscayaan atas konsep
tritunggal aspek filsafat ilmu yaitu ontologis, epistemologis serta aksiologis.
Dalam perspective epistemologis kompetensi inti domain ke-3 dan ke-4 merupakan
kompetensi-kompetensi yang membangun kontruksi proses berilmu-pengetahuan secara
prosederuran dan komprehensif. Sementara pada domain kompetensi ke-1 dan ke-2
lebih merupakan coverage area aspek aksiologis dan ontologis. Maka, bila
menggunakan perspective filosofis ini tentu tidaklah sulit memahami bangunan
struktur kurikulum 2013.



Jembatan penghubungnya adalah terletak pada proses pembelajaran yang
mengedepankan pembelajaran reflektif, yakni pembelajaran yang memberikan
kesadaran-kesadaran atas keniscayaan dan pentingnya karakter-karakter pembentuk
keberadaban manusia. Refleksi yang paling ultimate adalah refleksi atas
eksistensi pencipta : Tuhan Yang Kuasa. Tentu saja pembelajaran reflektif ini
sangat kental dengan kecukupan reasoning dan prinsip-prinsip logika berpikir.
Refleksi yang lebih mengedepankan penalaran logis serta keniscayaan rasional.
##wallahualam.

You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar