Jumat, 07 Juni 2013

[Cerita] Pemuda, Karenamu lah Petai dan Jengkol Naik Kelas

Cerita has posted a new item, 'Pemuda, Karenamu lah Petai dan Jengkol Naik
Kelas'




Ada rasa gembira ketika saya mengetahui bahwa harga jengkol melambung tinggi,
kemudian disusul dengan saudaranya petai yang lebih dahsyat lagi-harga sekilonya
hampir menyamai harga daging sapi. Maaf, mungkin terdengar kurang simpatik, saya
melihatnya dari sisi penghasil dan penjual bukan konsumen, bukan karena saya
bukan penikmat keduanya, tetapi rasanya wajar saja hal ini terjadi.

Mungkin sebagian besar masyarakat, terutama mereka kalangan muda menghindar atau
malu untuk mengakui bahwa sebenarnya ia penikmat petai dan jengkol. Tidak bisa
dipungkiri bahwa pada kedua buah ini seolah terselip status sosial yang tercipta
dengan sendirinya. Sebagian besar dari penggemar dan penikmat petai dan
jengkol adalah kalangan menengah ke bawah. Petai dan jengkol kemudian dijauhi
oleh para pemuda karena baunya yang menyengat dan bisa mengganggu aktivitas
sosial mereka.

Bila apel, jeruk, anggur, dan buah-buahan lainnya dianggap begitu wajar saat
harganya melambung tinggi, kenapa petai dan jengkol tidak? Apakah karena
buah-buahan tersebut begitu digandrungi dan meningkatkan status sosial
konsumennya? Sehingga wajar saja jika harganya sering melonjak? Hukum ekonomi
dimana- mana berlaku sama; semakin banyak permintaan, maka harga yang ditawarkan
semakin tinggi. Lalu, bagaimana dengan petai dan jengkol? Sebanyak itu juga kah
peminatnya? Saya pikir, mungkin banyak juga, walau tidak akan mampu menyaingi
jumlah penggemar buah-buahan di atas. Fakta lainnya, toh petai dan jengkol bukan
semacam buah yang dikonsumsi langsung, artinya, keduanya hanya sebagai makanan
pendamping, apalagi petai, hanya sebagai penambah rasa dan aroma saja, kalaupun
ada yang mengkonsumsinya langsung, mungkin tidak banyak.

Jika begitu, kenapa harga keduanya menjadi sedemikan mahal? Saya hanya
mereka-reka saja. Dulu, saat saya masih kecil, di kampung saya masih ada satu
atau dua pohon jengkol, kini? Tidak ada sama sekali. Bagaimana dengan pohon
petai, nasibnya sama meski tidak sepahit jengkol. Masih ada tampak beberapa
orang menanam petai di kebun mereka. Tahukah kalian para pemuda? Rasa malu dan
gengsi kalian untuk mengkonsumsi petai dan jengkollah yang menaikkan kelas
keduanya. Penikmat petai dan jengkol hanya tinggal generasi dahulu-jika tidak
ingin dikatakan tua. Sebagai konsekuensinya, para petani petai dan jengkol
membatasi atau mengurangi produksi/menanam keduanya atau bahkan beralih menanam
buah lain yang lebih laris di pasaran. Imbasnya, mereka yang sudah terlanjur
jatuh hati dengan petai dan jengkol, merasa terdzalimi dengan menghilangnya buah
ini dari peredaran.

Maka sekali-kali tak apalah memberikan rizki lebih kepada para petani petai dan
jengkol yang selama ini berada dalam ketidakpastian nasib, antara meneruskan
atau menyudahi menghasilkan petai dan jengkol atau beralih profesi dan haluan.
Selama ini, mereka mungkin tak pernah mampu bersaing dengan penghasil buah idola
yang merajai pasaran. Bagi para penikmat petai dan jengkol, saatnya untuk
memilih buah alternatif lain. Jika memang tak tahan lama-lama, biarlah berbagi
rizki dengan mereka para penghasil dan penjual petai dan jengkol. Sama-sama
menikmati bukan? Toh tak setiap hari juga Anda mengonsumsinya. Bagaimanapun,
petai dan jengkol adalah buah lokal yang harus diperjuangkan. Dan harus diingat
juga, mengonsumsi keduanya secara berlebihan tidak baik bagi kesehatan, terlebih
bagi kaum muslim hukumnya makruh mengkonsumsi keduanya.


Dengan tulus saya memohon, maka izinkan dan relakan, petai dan jengkol naik
kelas, walau mungkin tak kan sestabil harga daging. Mungkin para pemilik dan
pedagang jengkol dan petai akhirnya akan berterima kasih kepada para pemuda.
Hihi..


You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar