Sabtu, 01 Juni 2013

[Cerita] Situs Condrogeni

Cerita has posted a new item, 'Situs Condrogeni'


Situs Condrogeni
Arca Megalitik Berselimutkan Kabut Wilis

Hm, Gunung Wilis merupakan suatu gunung suci karena dianggap sebagai salah satu
ceceran Gunung Mahameru yang dipindah dari India ke tanah Jawa. Tak heran, di
Gunung Wilis kaya akan peninggalan purbakala. Salah satunya adalah Situs
Condrogeni yang terletak di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk,
Jawa Timur.



Menuju ke Situs Condrogeni


Menuju ke Situs Condrogeni bisa dibilang susah susah gampang. Untuk kemari,
arahkan kendaraan ke kawasan wisata Air Terjun Sedudo (dari arah Nganjuk,
arahkan kendaraan ke Kediri, saat sampai persimpangan Loceret ikuti petunjuk
yang ada). Setelah melalui loket retribusi (wisatawan

ditarik biaya Rp 5.000, sedangkan sepeda motor Rp 1.000,-), arahkan kendaraan
langsung menuju ke Air Terjun Sedudo. Jika bertemu pertigaan ke arah Air Terjun
Singokromo, terus saja jangan belok. Tak jauh dari sini akan ketemu papan
petunjuk ke arah Situs Condrogeni, belokkan kendaraan ke jalan tanah yang kecil.
Mobil tidak bisa masuk, hanya motor yang bisa. Pastikan kendaraan dalam kondisi
prima dan disarankan berhati hati jika dalam kondisi hujan karena jalanan akan
menjadi licin.

Jika menggunakan kendaraan umum, silahkan naik angkot menuju ke Sedudo. Kita
bisa naik angkot dari Terminal Nganjuk. Jika naik bis dari Kediri, turun di
persimpangan Loceret. Jarak dari Loceret sekitar 25 Km kalo ga salah. Setelah
itu turun di Terminal Sawahan (pemberhentian terakhir) dan lanjut dengan ojek.
Jangan takut kehabisan angkot maupun ojek, karena angkot dan ojek disini masih
banyak banget, cuman jika mau ke Situs Condrogeni harus meyakinkan tukang
ojeknya dulu.

Naik Turun Gunung

Nah, niatan awal sehabis dari Candi Ngetos dan gagal ke Monumen Dr. Soetomo,
kami mau melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sedudo. Apalagi hari Selasa itu,
21 Mei 2013 langit sedang cerah setelah diguyur hujan semalam. Tapi, dasar
pengemudi motornya sama sama demen batu, saat melihat papan petunjuk menuju
Situs Condrogeni, tanpa pikir panjang kami langsung mengganti tujuan.


Sepeda Motor Hanya Sampai Disini


Dari papan petunjuknya tertulis 3 Km lagi. Jalannya, tentu saja jalan tanah
seperti foto yang paling atas. Jangan takut tersasar, ikuti saja jalan yang ada.
Jika jalan bercabang, ikuti saja jalan yang terus, jangan ikuti jalan yang
berbelok. Jalan tanah ini aduhai banget, melewati sebuah sungai, kebun mawar,
jajaran hutan pinus dan tentu saja, jalannya berada di tepi jurang !! Kalau
musim hujan, tentu saja licin, jadi kita harus hati hati.

Jalan Kaki Diantara Gunung




Jarak dari jalan raya menuju Situs Condrogeni sekitar setengah jam. Dari sini,
kita bisa melihat Air Terjun Sedudo dari kejauhan. Walau jalan menuju situs
seperti itu, tapi masih belum separah waktu saya kesasar di Gunung Wilis dalam
rangka mencari Omben Jago. Jika masih belum yakin jalan yang ditempuh, bisa
bertanya ke warga sekitar (jika ketemu lho ya). Untungnya, di sore hari itu,
kami ketemu tiga warga, mereka sedang sibuk merawat kebun bunga mawar.


Dari keterangan warga, ternyata sepeda motor tidak dapat menjangkau lokasi dan
harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Geber saja sepeda motor sampai jalanan
tidak bisa dilalui lagi dan berganti menjadi jalan setapak kecil. Dari sini
parkirkan sepeda motor dan berjalanlah ke atas. Jalan kaki menuju Situs memakan
waktu sekitar 15 - 20 menit. Ikuti jalan yang ada sampai bertemu percabangan
jalan, satu menuju ke atas dan satunya mengarah ke bawah, ke arah sungai. Saat
itu, saking semangatnya, kami sampai tersasar ke atas, akhirnya kami harus
kembali turun ke bawah, melewati sungai untuk sampai ke Situs. Sungainya, tentu
saja jernih dan dingin. Sungainya tak terlalu lebar dan dalam kok, kita bisa
menyeberang dengan leluasa. Setelah menyeberangi sungai, Situs Condrogeni sudah
terlihat dengan tanaman bewarna merahnya.


Dua Arca Megalitik

Mengapa Situs ini diberi nama Condrogeni ? Kemungkinan masih berhubungan dengan
Legenda Candi Ngetos. Condrogeni sendiri merupakan patih Raja Ngatas Angin,
Raden Ngabei Siloparwoto. Konon, letak kepatihan Raden Bagus Condrogeni ini
terletak sekitar 15 km dari Negeri Ngatas Angin yang sekarang terdapat Situs
Condrogeni.

Situs Condrogeni terbagi menjadi dua bagian, satu berada di bawah, sedangkan
satunya lagi berada di atas. Arca arca di Situs Condrogeni sangat unik dengan
bentuk yang mengarah ke arca Megalitik. Arca arca Condrogeni kemungkinan
peninggalan masa Kerajaan Majapahit akhir. Selain arca, dulu di Situs ini
terdapat talud, tapi sekarang sepertinya tertutup tanah dan tanaman sehingga tak
kelihatan lagi. Selain itu, dulu juga terdapat banyak arca disini, entah
sekarang musnah kemana semua arca itu.






Situs Condrogeni Bagian Bawah Klik Untuk Memperbesar
Situs Condrogeni bagian bawah terdiri dari satu arca dwarapala, dua buah menhir
atau tugu batu dan sebuah batu yang bentuknya menyerupai stupa. Arca dwarapala
dibawah sini memiliki bentuk gemuk, mulut menyeringai dengan gigi taringnya yang
tajam, rambut gimbal nan panjang, dan hidung yang besar. Tangan kanannya
memegang pedang polos tanpa ukiran, memakai kalung, gelang serta anting anting
dikedua telinganya. Arca disini dalam posisi jongkok dan memakai kain untuk
menutupi daerah kemaluannya (seperti yang dipakai para pesumo).

Dari arca dibawah, berjalanlah menuju Papan Larangan, di dekatnya terdapat jalan
yang menuju ke atas. Ikuti jalan ini, dekat kok, hanya semenit dan kita sudah
sampai ke Arca Dwarapala yang kedua. Di tempat ini terdapat sekitar dua buah
umpak, sebuah menhir dan sebuah arca dwarapala. Arca dwarapala disini lebih
ramping dan tinggi dari arca yang ada dibawah. Arca tersebut memegang pedang
berukir yang patah, memakai kain penutup kemaluan, memakai kalung dan memiliki
payudara (arca perempuan ?). Bagian mata dan hidung arca melesak ke dalam dan
tangan kanannya putus.






Situs Condrogeni Bagian Atas Klik Untuk Memperbesar

Adanya umpak disini, kemungkinan pernah ada suatu bangunan pendopo. Dengan
adanya arca dwarapala di atas dan dibawah, kemungkinan Situs ini merupakan suatu
bangunan punden berundak seperti Candi Sukuh maupun Candi Ceto. Setelah puas dan
hari beranjak sore, kami segera pulang kembali. Dan seperti biasa, perjalanan
pulang jauh lebih cepat daripada perjalanan berangkatnya, hanya dalam waktu 10
menit kami sudah mencapai jalan beraspal.



Situs Condrogeni Dengan Tanaman Merahnya
Situs Condrogeni, suatu Situs yang tak pernah disangka, berada dibalik hiruk
pikuknya wisata Air Terjun Sedudo. Suatu Situs peninggalan purbakala yang layak
dijaga dan dilestarikan. Suatu Situs peninggalan purbakala yang bertahan selama
ribuan tahun dalam selimut kabut Gunung Wilis yang suci.


You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar